
Karier dan reputasi Inke Maris di dunia kepenyiaran radio televisi Indonesia dan internasional tak pernah cacat. Karena reputasi baik itulah sejak tahun 1987, Inke bersama suami, Rizal Maris, merintis usaha jasa konsultan strategi komunikasi. Ia mengusung namanya sendiri sebagai bendera usaha, Inke Maris & Associates, biasa disingkat IM&A atau IMA.
Inke, ibu tiga orang anak (Yuma Sanjaya, Armand Erlangga Maris dan Renata Maris), ini layak disebut pelopor atau pioner bisnis di bidang industri jasa public relations (PR). Dia wanita Indonesia pelopor usaha jasa public relations (PR)..Sebab pada saat itu perusahaan dan nilai-nilai PR masih belum begitu dimengerti di Indonesia. Perusahaan PR lokal praktis belum banyak tumbuh.
Saat itu, kendati sudah ada satu-dua perusahaan jasa ke-PR-an tak lebih mengusung nama dan kepanjangan tangan kepemilikan agensi-agensi asing. IM&A murni kreasi anak bangsa, berafiliasi dengan asing Michael de Kretzer Corporate and Marketing Communications hanya sebatas saling memanfaatkan jaringan bisnis masing-masing mutual benefit. Sedangkan bisnis dan kepemilikan, masing-masing berjalan sendiri-sendiri.
Di tengah-tengah puncak kariernya sebagai penyiar, reporter, dan produser TVRI itulah ide baru itu mucul yakni membuka bisnis jasa konsultan di bidang komunikasi. Tujuannya untuk memperlancar komunikasi bisnis orang-orang asing yang berbisnis di seluruh Indonesia.
Keberanian Inke terjun ke jasa PR (1987) didasari keniscayaan akan terbukanya Indonesia terhadap dunia asing, khususnya di bidang bisnis dan perdagangan internasional. Saat itu, bisnis, industri dan perdagangan regional dan internasional justru sedang melirik ke Indonesia.
Ketika itu, Inke Maris berpikir bahwa di Indonesia akan berkembang bisnis nasional, regional dan internasional. Sebelumnya, Indonesia seolah tertutup terhadap bisnis asing sebab masih lebih melihat ke dalam. Sejak tahun 1987 investasi mulai banyak masuk, pesat sekali perkembangannya di luar bisnis ‘tradisional’ perusahaan minyak asing.
Itulah yang dilihat Inke sebagai peluang, bagaimana memudahkan perjalanan bisnis asing agar berkembang dengan baik di Indonesia. Sebab jika itu terjadi pasti akan membawa manfaat banyak buat Indonesia, karena bisa belajar dari para pelaku bisnis asing tersebut. Bisnis advertising hingga bikin sepatu ataupun yang lain, dapat pula seiring ikut berkembang.
Dalam pandangan Inke, setiap organisasi bisnis, institusi atau pemerintah pasti mempunyai kewajiban serta kebutuhan untuk berkomunikasi dengan lingkungan. Padahal bagaimana berkomunikasi yang baik, itu tidak semua orang paham. “Jadi, saya mencoba membantu di sana,” kata Inke. Dia pun lalu mendirikan Inke Maris & Associates (IM&A), tahun 1987, bergerak di bidang jasa pelayanan konsultasi komunikasi.
Pekerjaan pertama sebagai PR di tahun 1988, adalah dipercaya menangani The World Grain Congress yang dihadiri oleh semua perusahaan penghasil gandum dan tepung terigu dari seluruh dunia, berlangsung di Indonesia, didukung oleh perusahaan gandum Bogasari.
Setelah itu, IM&A bertumbuh sedemikian rupa. Tidak hanya melayani orang atau lembaga dalam negeri atau nasional. IM&A juga bersifat internasional. Memang, IM&A didirikan untuk memberikan pelayanan yang terbaik, profesional, terpercaya, berintegritas, transparan dan bertanggungjawab sebab didukung oleh sebuah tim yang profesional dan terdidik.
Pada saat IM&A didirikan, Inke hampir-hampir tidak menghadapi persaingan di bisnis public relatons (PR) secara berarti. Sebab ia adalah perintis PR saat itu. Kalaupun ada persaingan, itu boleh dibilang hanya muncul dari satu dua orang. Selain tanpa persaingan bisnis advertising dan PR masih memperoleh perlindungan, dibatasi harus perusahaan Indonesia, berlangsung hingga tahun 1990-an.
Indonesia kemudian berkembang dan menjadi semakin liberal serta terbuka. Begitu perusahaan PR asing diizinkan bebas beroperasi, segera saja banyak masuk perusahaan PR besar dari luar membuka kantornya di Indonesia.
IM&A yang dalam perjalanan singkatnya mampu tampil menjadi salah satu perusahaan komunikasi terbaik di negeri ini, membagi jasa pelayanannya ke dalam Corporate & Public Affairs, Financial Communications, Issues and Crisis Management, dan Marketing Communications.
Dia memimpin IM&A sebagai chief executive officer, sehingga perusahaan ini menjadi sebuah konsultan public relations (PR) terkemuka di Indonesia. Dia membangun reputasi IM&A persis pada saat orang belum kenal apa itu public relations. PR, ketika itu masih dijadikan sebagai bahan olok-olok, lucu-lucuan, dan selalu dikaitkan dengan kehadiran wanita cantik. Masih agak rancu membedakan mana orang-orang public relations, orang sales, resepsionis hotel, atau penjual buku ensiklopedia.
Namun Inke bergiat membawa IM&A untuk terus berkembang. Meskipun tahun 1997 Indonesia terkena beragam krisis, di mana banyak perusahaan PR skala kecil hingga menengah tutup kantor, IM&A di tangan Inke masih bisa bertahan.
Hasil pencapaian Inke malah sangat jauh berbeda dalam empat lima tahun terakhir, saat jasa PR mulai memasuki area baru komunikasi politik. Jasa PR dibutuhkan membantu kampanye politik untuk membangun pencitraan para politisi atau tokoh masyarakat yang berebut jabatan publik di pemerintahan atau lembaga perwakilan.
Perbedaan mencolok terjadi pula pada para pelaku bisnis nasional. Kalau dahulu klien IM&A lebih banyak perusahaan asing yang bergerak di Indonesia, sekarang, perusahaan Indonesia sendiri sudah memahami makna kehadiran komunikasi PR. IM&A bersaing bukan lagi dengan sesama perusahaan PR, tetapi juga dengan divisi-divisi PR yang ada di tiap-tiap perusahaan. Malahan, bisa saja anak buah Inke dibajak oleh perusahaan lain, atau sebaliknya IM&A yang membajak karyawan dari sebuah perusahaan.
Persaingan bukan lagi sebatas persaingan bisnis, jadinya, tetapi termasuk dalam hal human resource, serta pekerjaan-pekerjaan yang sudah lebih banyak ditangani oleh divisi-divisi PR perusahaan.
Jika orang Indonesia sangat mengenal Inke Maris sebagai penyiar TVRI, di luar nama Inke lebih populer sebagai pelaku bisnis public relations yang mengantongi sejumlah klien berkelas multinational companies. Seperti, Mercedes Benz, Volkwagen (VW), World Gold Council, Telkom, konglomerat Asia asal Malaysia Guthrie Berhad, proyek Australia-Indonesia Today ’94 dan Marketing Australia ’95, BP Indonesia-Tangguh LNG Project, Caltex, Conoco Indonesia, Total Indonisie Singapore Airlines, Hong Kong Tourism Board (HKTB), serta BCA, BNI, Bank Mandiri dan BII.
IM&A hadir secara elegan sebagai pionir industri jasa PR Indonesia, yang tetap berada pada posisi leading untuk kasus-kasus terbaru dalam empat lima tahun terakhir, seperti pelaksanaan jasa ke-PR-an pada masa kampanye politik Pilpres 2004. Pada 13 Maret 2003 IM&A memperoleh penghargaan Cakram Award for Best Public Relations Consultant of The Year dari “Cakram”, sebuah majalah khusus insan periklanan, PR, dan industri komunikasi, atas keberhasilannya membangun citra dan reputasi sebagai perusahaan PR yang baik.
Quality & Delivery
Berdasarkan pengalaman terlibat sebagai Media Centre Coordinator pada Pilpres 2004, Inke lantas berpandangan kondisi ke-PR-an Indonesia di masa depan akan semakin marak dengan perkembangan political PR. Dan, sesuai perkembangan politik, sosial, dan ekonomi yang kondusif, bisnis-bisnis pun akan mulai tumbuh marak bersamaan dengan kegiatan investasi yang semakin besar di Indonesia.
Itu berarti akan sangat dibutuhkan peranan PR. PR adalah jasa yang pada saat bisnis menurun pun tetap dibutuhkan. Karena itu PR, menurut Inke, adalah bisnis untuk segala zaman. Kondisi perusahaan sedang baik atau buruk komunikasi tetap dibutuhkan.
Menurut Inke, persaingan bisnis PR akan semakin ketat. Saingan terbesar berasal dari perusahaan-perusahaan raksasa PR asing yang kantor perwakilannya marak bertumbuhan di Indonesia. Persaingan akan sengit di sana termasuk persaingan dari perusahaan-perusahaan baru bernama event organizing, yang khusus menangani aspek event organizing yang juga sedang marak bertumbuhan.
Namun, Inke tak merasa risau dengan persaingan itu. Sebab “kue” PR juga ikut naik. Karena itu, klien pasti akan melihat siapa perusahaan PR yang sanggup memberikan jasa pelayanan sesuai quality dan delivery yang diinginkan.
Inke mempunyai kiat sederhana memenangkan persaingan. Yakni harus men-deliver apa yang dijanjikan. Itu sebab Inke tak mau menjanjikan sesuatu jika memang tidak bisa dia deliver. Jika Inke sudah menjanjikan bahwa pada hari H harus sudah menyelesaikan X, maka itu harus selesai. Selain menerapkan prinsip deliver what you promise, Inke juga konsisten menjaga quality. Apa yang dijanjikan harus bisa diukur.
Inke Maris menyadari popularitas pribadinya yang bereputasi baik selama bekerja di TVRI, itu harus mampu diimbangi IM&A sebagai lembaga. Adalah biasa bagi Inke merasakan malu, jika kebetulan ikut hadir di dalam rapat dengan klien nama Inke Maris muncul menjadi sorotan untuk dipermasalahkan, atau dituntut. Padahal, kata Inke, nama Inke Maris yang dimasudkan adalah lembaga IM&A.
Hampir dua dekade berkarya nama IM&A sudah lama tertanam di kalangan bisnis, tanpa melihat lagi reputasi yang disandang pendiri dan pemiliknya yang mantan spesialis pewawancara tokoh kelas tinggi. “Nggak perlu harus ada kehadiran saya di sana,” kata Inke. Inke membangun citra perusahaan IM&A secara profesional sebagai perusahaan yang bisa berjalan sendiri dengan tim secara solid.
Jika di dalam negeri Inke sangat populer sebagai penyiar TVRI, di kalangan bisnis internasional yang tak pernah menonton TVRI pasti tak akan mengerti hal itu. Kalangan bisnis internasional hanya mengenal reputasi IM&A yang dibangun sebagai sebuah perusahaan PR profesional berkelas dunia.
Pembelajar PR
Inke juga pantas dijuluki sebagai pembelajar ke-PR-an di Indonesia. Dia tak pelit membagi pengalaman dan pengetahuan praktisnya yang luas tentang ke-PR-an. Dia membuka kesempatan kursus ke-PR-an pada Divisi Pendidikan IM&A.
Namun sifatnya terbatas, sebab hanya ditujukan untuk level manajemen perusahaan, bukan untuk umum. Semacam in house training. Inke memberikan training dan workshop secara khusus kepada perusahaan-perusahaan yang mau go public, seperti BCA, Telkom, World Bank, dan banyak perusahaan publik lain.
IM&A memang mempunyai line of business yang beragam sebab komunikasi itu sangatlah luas. Inke secara sengaja menempatkan IM&A sebagai strategic communication consultant yang bisa memberikan jasa pelayanan komunikasi dari A sampai Z, mulai dari konsultansinya hingga ke pelaksanaan.
Misalnya mengadakan workshop, mengusahakan liputan bekerjasama dengan media, menyelenggarakan acara-acara untuk perusahaan, membuat sambutan-sambutan, company profile, annual report, dan lain-lain termasuk membuat iklan. IM&A mempunyai spesialisasi membuat iklan yang sifatnya lebih ke corporate, bukan product.
Inke Maris mempunyai sumberdaya yang memadai untuk menakhodai biduk bisnisnya, sekitar 50 karyawan. Di divisi graphic design, namanya Impression, itu khusus menangani graphic design dan produksi-produksi bahan cetakan dan video clips. Divisi Impact khusus menangani acara-acara dari acara yang besar sampai kecil, seperti peluncuran VW yang baru jenis VW Passat, VW Golf, atau mempromosikan susu Anlene, sampai ke acara-acara yang melibatkan Presiden.
Untuk pemerintahan Inke pernah menangani acara besar melibatkan Presiden RI dengan PM Malaysia Mahathir, dan Presiden RI dengan PM Singapura Goh Chok Tong. Ketika pemerintahan sudah di tangan SBY Inke masih berkesempatan menangani acara SBY yang pertama, mengadakan teleconference dari Istana Negara dengan kapal produksi gas terbesar kedua di dunia milik Conoco, Balanak.
Visi jika menjadi Menkominfo
Sebagai mantan penyiar berkutat tiga dekade lebih dengan electronic media, Inke tetap memelihara hubungan emosionalnya dengan TVRI khususnya di tengah persaingan stasiun TV yang semakin ketat. Bahkan, Inke mempunyai visi kebangsaan tersendiri terkait dengan peran media massa khususnya televisi atau TVRI.
Electronic media baik radio maupun televisi, kata Inke, mempunyai peran yang sangat besar. Seperti RRI di zaman revolusi menjadi pembawa berita yang didengarkan orang. TVRI pun di masanya menjadi alat pemersatu yang memperkokoh kesatuan-persatuan, yang mestinya terus dipelihara.
Ia membandingkan hasil studinya tentang India, China, atau Malaysia. TVRI-nya India, namanya Doordashan, itu masih menguasai 75-80 persen audiens. Begitu juga China, yang bahkan lebih parah negeri Tirai Bambu tidak mengizinkan TV kabel seperti CNN atau StarTV mengadakan siaran langsung. Tidak semua orang boleh bebas memiliki parabola untuk menangkap siaran dari luar negeri. Malaysia baru dua tahun terakhir mengizinkan masuk TV kabel.
Berdasarkan studi itu, Inke melihat ke depan Indonesia harus dijaga agar masyarakat melihat dirinya dari kacamata sendiri, tidak dari kacamata Amerika, atau Australia, atau Inggris, ataupun negara lain. Inke merasa harus menyebut dua negara Inggris dan Amerika karena kenyataan di dunia komunikasi terutama komunikasi global itu dikuasai kedua negara.
Inggris dengan Reuters-nya lalu Amerika dengan AP-nya (Associate Press), sudah berdiri tahun 1890-an, mempunyai sekaligus menguasai jaringan informasi di seluruh dunia.
Itu sebab Inke merasa sangat concern dan khawatir jika melihat beberapa stasiun TV dan radio di Indonesia sudah menyiarkan atau merelay berita-berita dari BBC, atau dari Voice of America (VoA), melalui siaran nasional. Itu sebetulnya berbahaya untuk ketahanan bangsa, sesuatu yang tak akan mungkin terjadi di India demikian pula China melalui kebijakan telekomunikasi penyiarannya.
Inke sesungguhnya masih menaruh harapan pada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dimana ketua dan anggotanya merupakan orang-orang komunikasi seperti Victor Menayang. Mereka, harap Inke, mudah-mudahan cukup kuat mengatur penyiaran sedemikian rupa agar Indonesia tidak mengorbankan kemajuan bangsa, pendidikan bangsa, hanya untuk acara-acara hiburan saja, misalnya.
Menurut visi kenegaraannya, Inke menyebutkan Indonesia harus memanfaatkan sarana-sarana media komunikasi televisi untuk tiga hal. Pertama, memperkuat demokrasi melalui informasi. Yakni informasi yang mempersenjatai dan membekali orang Indonesia untuk bisa membuat pilihan-pilihan yang tepat tentang kebijakan Pemerintah. Katakanlah, jika Pemerintah mau mencabut seluruh subsidi BBM masyarakat harus paham apa implikasinya, dan sebagainya.
Yang bisa memberikan edukasi seperti itu adalah lahan-lahan atau ruang siaran. Nyatanya, Inke melihat semua stasiun TV memiliki porsi untuk informasi sudah semakin kecil. TVRI pun, yang namanya sebetulnya disebut TV publik, porsi untuk program berita sudah sangat mengecil, berkurang sekitar 40 persen dibandingkan tahun 1997.
Pemanfaatan kedua, edukasi untuk mencerdaskan bangsa. Misalnya, edukasi kesehatan tentang bagaimana hidup sehat, bagaimana membasmi nyamuk supaya tidak ada demam berdarah karena demam berdarah terkait dengan gaya hidup yang jorok. Kemudian informasi mengenai keluarga, mengenai hak dan kewajiban keluarga. Itu semua bisa dikemas dalam sinetron atau komedi tetapi ada misinya.
Pemanfaatan ketiga adalah hiburan, sebab segala sesuatu di televisi tidak akan menarik kalau tidak dikemas dengan cara yang menghibur. Tetapi yang menjadi kekhawatiran baru Inke adalah, porsi hiburan justru menjadi lebih penting.
Kecenderungan itu terjadi karena televisi, terutama, demikian pula radio telah menjadi sarana bisnis bukan lagi sarana untuk public education dan public service. Untung saja reporter-reporter Indonesia, menurut Inke, masih mempunyai jiwa public service dalam caranya mencari dan menyajikan informasi yang berimbang. Tujuannya adalah untuk share pandangan-pandangan mereka dengan orang banyak, untuk meng-educated orang banyak tentang pandangan orang lain, dan untuk menjadi pembanding dan sebagainya.
Kalau porsi informasi dikurangi demokrasi juga mungkin akan tersendat-sendat karena rakyat tidak bisa membuat pilihan-pilihan yang well informed. Inke melihat kecenderungan yang terjadi pada para pemilik stasiun televisi, swasta terutama, telah menggunakan stasiun TV untuk kepentingan grup bisnis dan grup politiknya, bukan lagi untuk kepentingan publik.
Kecenderungan demikian muncul, kata Inke, selain terkait dengan cost investasi dan operasi, juga akibat lemahnya peraturan yang dibuat. Negara maju yang semaju-majunya demokratis pun, seperti Inggris, masih mempunyai aturan main di mana semua stasiun TV harus punya porsi public service.
Jadi, untuk public service TV swasta harus mempunyai porsi sekian persen, informasi sekian, edukasi sekian, hiburan sekian. Untuk TV swasta porsi hiburannya mungkin lebih besar, untuk TV publik porsi hiburannya lebih kecil. Hiburannya pun harus yang lebih mendidik. Seperti, kalau di barat opera dan musik klasik, sementara di TV swasta lebih ngepop, mungkin.
Di Amerika TV masih diatur. Kata Inke, seorang pemilik cable television jika mau membuka TV kabel di suatu daerah baru, itu harus menandatangani perjanjian bahwa ada porsi tertentu yang akan diperuntukkan sebagai akses bagi masyarakat untuk mengungkapkan pendapat dan pandangannya, baru boleh dapat izin.
Jika di negara demokrasi saja hal-hal seperti itu diatur, di Indonesia tidak ada aturan demikian. Kalau kita mau mencuri masa depan anak-anak silakan saja berikanlah dangdut dan cerita hantu, katan Inke. Cerita hantu, menurut Inke, harusnya masuk porsi hiburan. Namun di Indonesia seakan-akan masuk porsi edukasi. Inke, yang percaya besarnya peran media massa dan televisi dalam hal ini, lalu bertanya retorik bangsa ini hendak dididik kemana sesungguhnya.
Selain karena lemahnya peraturan, Inke juga mempersoalkan rendahnya rasa tanggung jawab sosial para pemilik stasiun TV. Apakah Anda merasa bahwa, tanya Inke lagi, TV swasta tetap menyuguhkan cerita hantu setiap malam. “Don’t you think they have a responsibility terhadap bangsa ini,” demikian Inke.
Keberanian Inke menggugat karena mau tidak mau media massa bukanlah semata-mata bisnis. Sebab sejak dahulu media massa disiarkan di ruang publik sehingga harus memperhatikan publik. Tua muda yang menonton televisi, itu jangan dieksploitir hanya untuk menjual iklan dan produk. Tua muda harus juga mendapatkan haknya sebagai publik, yakni sebuah pelayanan publik atau public service.
Media massa harus digunakan mencerdaskan bangsa, memperkuat demokrasi, dan untuk menghibur. Itulah visi Inke sekiranya diangkat menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), memperkuat kebijakan bahwa televisi tetap punya tanggung jawab moral dan sosial kepada publik.
e-ti/ht-ms
www.tokohindonesia.com
_________________________________
Ikon perempuan 'total professionalism'
Wanita cantik berdarah Sunda, bermata lentik dan bertubuh mungil, ini adalah mantan reporter, penyiar atau broadcaster radio dan televisi yang memiliki sikap total professionalism. Dia mempunyai spesialisasi mewawancarai tokoh-tokoh kaliber dunia. CEO Inke Maris & Associates (IM&A), ini juga seorang pelopor jasa public relations nasional di Indonesia. Dia ikon perempuan profesionalisme total.
Putri kelahiran Bogor, 7 Desember 1950, dari pasangan diplomat Yusuf Natanegara dan Mira binti Haji Mansur, ini menyandang nama lengkap Nyi Raden Maria Dinariati Natanegara disingkat Inke Natanegara. Lalu sejak menikah dengan Rizal Maris di London tahun 1969, ia menjadi lebih dikenal dengan nama Inke Maris.
Ia dikenal luas sebagai reporter, penyiar dan produser radio BBC London Seksi Indonesia (1969-1982) serta penyiar, reporter dan produser TVRI (1982-2001). Di TVRI dia mempunyai spesialisasi melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh terkemuka berkaliber dunia dan nasional.
Kemampuan kewartawanan Inke seringkai dikagumi banyak orang dengan bertanya retorik, bagaimana dia bisa melakukan hal itu, atau ‘How do you do it’. Inke, menyebut resep dirinya bekerja adalah total professionalism.
Menurutnya, seorang reporter harus memiliki sikap total professionalism. Cara pendekatan ketika melobi untuk memperoleh waktu wawancara, dalam membahas substansi yang akan dibicarakan, dan ketika melaksanakan wawancara, harus bersikap obyektif. Mendalami latar belakang permasalahan, memelajari latar belakang tokoh yang akan diwawancarai, karirnya, pandangan-pandangannya, akan memberikan pewawancara ‘senjata’ yang ampuh.
Bagi Inke, wawancara mempunyai satu tujuan utama, mewakili kepentingan masyarakat banyak untuk memperoleh informasi yang relevan bagi kehidupan masyarakat. Inke berpendapat seorang pewawancara atau penyiar mempunyai kewajiban untuk meningkatkan pengetahuan umum tentang berbagai masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dan hal itu merupakan suatu public service yang harus ditekuni dengan penuh tanggungjawab.
Profesionalisme bagi Inke adalah berarti menggali informasi untuk menggiring tokoh ke suatu titik yang diinginkan, melalui pertanyaan-pertanyaan yang berlandaskan pengetahuan, dan membiarkan penonton, pemirsa, mengambil kesimpulan sendiri.
Penyiar BBC London
Inke menapaki karir jurnalistik dari media radio. Usai lulus sekolah bidang komunikasi, Inke lama bekerja di radio BBC London. Selama belasan tahun antara 1969-1982 Inke adalah reporter, penyiar, dan produser radio BBC London Seksi Indonesia (BBC World Service Indonesian Section). BBC World Service adalah program radio yang dipancarkan dalam 45 bahasa, salah satunya bahasa Indonesia..
Pada mulanya, tugasnya sederhana saja, menangani acara ringan seperti ‘Musik Pilihan Anda’. Ia lalu diangkat sebagai penyiar dan menjadi produsen untuk acara-acara yang membahas masalah ekonomi, perdagangan terbaru dan aspek-aspek kehidupan sosial di Inggris. Ia menangani acara mingguan “Ekonomi dan Perdagangan” (Economics and Trade), “Tamu Anda” dan “Inggris Dewasa Ini” (Britain Today).
Inke berkali-kali berkesempatan sekolah dan mengikuti berbagai BBC Training Program. Antara lain, Magazine Production (Agustus 1973), Features Production (Oktober 1975), Interview Techniques (September 1979), dan News Production (September 1991). Dalam berbagai traning itu, dia mendalami teknik penyusunan berita, penyusunan features, teknik wawancara dan pembuatan film dokumenter.
Inke merasa sangat beruntung dapat bekerja di BBC, sebuah kantor komunikasi radio dan televisi yang sudah berusia tua, berdiri tahun 1880-an, terkemuka, disegani, serta mempunyai jaringan luas di seluruh dunia. Stasiun televisi dan radio dari seluruh dunia banyak mengirim personelnya menjalani training ke BBC London.
Menurut Inke, BBC adalah lembaga penyiaran radio televisi tertua dan terhormat di dunia yang sangat dihargai oleh lembaga-lembaga penyiaran mancanegara. Seringkali, lembaga-lembaga itu mengirimkan orang-orangnya ke London untuk mengikuti training. Inke sangat beuntung berada langsung di ‘jantung’ radio BBC London dan berkesempatan mengikuti berbagai program training.
Karena kecintaannya terhadap tanah air, sekaligus memelihara ikatan batin sesama warga bangsa, Inke menambah pekerjaan sampingan sebagai koresponden harian “Sinar Harapan”, berkedudukan di Inggris, antara tahun 1976-1982.
Inke mengakhiri karir di BBC London tahun 1982 karena harus kembali ke Indonesia mengikuti suaminya Rizal Maris, yang menikahinya di London tahun 1969. (Rizal Maris adalah mantan perwira kapal niaga Ocean, yang kemudian banting stir berkarir di perusahaan konsultan di London, kemudian menjadi bankir di Citibank cabang London. Lalu, Rizal mendapat tugas baru merintis pembangunan cabang baru Citibank di Jakarta, Indonesia, tahun 1982. Setelah itu, Rizal bersama Inke mengelola IM&A dengan spesialisasi bidang penerbangan udara).
Penyiar TVRI
Setiba di Indonesia, Inke bergabung dengan TVRI (1982). Dia mengajukan surat lamaran ke TVRI, satu-satunya stasiun telvisi ketika itu, dan lolos bersaing dengan ratusan pelamar lain. Sejak itulah Inke membangun karier baru di TVRI sebagai penyiar.
Setahun kemudian, Inke dipercaya mengelola program khusus siaran berbahasa Inggris TVRI, English News Service. Ia dikenal sebagai penyiar yang sangat fasih berbahasa Inggris. Apalagi karena bertampang imut, smart dan anggun, Inke Maris sangat familiar bagi para pemirsa TVRI kala itu.
Di TVRI, Inke ternyata sempat merasakan ketidakpuasan jika hanya menjadi pembaca berita. Ia melihat masih tersedia banyak kesempatan, semisal menjadi reporter, pewawancara, atau produser acara. Namun, ia tersadar harus berusaha maksimal untuk dapat mengambil peluang itu. Inke kemudian mulai melakukan wawancara-wawancara hingga membuat dokumenter.
Beberapa dokumenter pernah dia buat untuk TVRI, yang selalu memberikan kepuasan tersendiri. Seperti, bagaimana ketika Inke membuat film dokumenter tentang masalah lingkungan selama dua minggu menelusuri sungai Berantas mulai dari mata air (hulu) sampai ke ujung bawah (hilir), judulnya “Sungai Berantas dan Lingkungan”. Inke juga membuat film dokumenter kayu lapis, sebuah industri yang baru berkembang biak, Indonesia mulai menebangi hutan. Judulnya, “Pertumbuhan Industri Kayu Lapis Indonesia. “Itu, juga sangat menarik,” kata Inke.
Dia pun kerap kali muncul secara eksklusif mewawancarai tokoh-tokoh, khususnya tamu kenegaraan yang berkunjung ke Indonesia. Sebelum tamu tiba, wajah Inke biasanya sudah lebih dahulu hadir membawakan berita features dan dokumenter, berisikan biografi dan ketokohan tamu berikut profil negara asalnya.
Pengondisian seperti itu secara sangat mengesankan pernah dilakukan Inke terhadap PM Inggris, Margareth Thatcher, yang akan berkunjung ke Indonesia tahun 1984. Ia membuat film dokumenter berjudul “Inggris Dewasa Ini”.
Dari kiprah demikian itulah karir Inke berkembang. Ia mulai dipercaya mencari sendiri narasumber terkemuka, untuk diwawancara secara esklusif. Seperti seorang menteri, perdana menteri, hingga presiden. Kesemuanya berhasil memberikan kepuasan tersendiri bagi pemirsa dan bagi diri Inke sendiri.
Setelah sekina lama, Inke jarang muncul di layar TVRI, setelah mendirikan dan memimpin Inke Maris & Associates (1987-sekarang), sejak Oktober 1997 hingga November 2001, Inke kembali berkesempatan menghadirkan acara baru News & Views di TVRI. Program ini, muncul sekali seminggu setiap hari Selasa malam, berisi wawancara eksklusif dengan tokoh-tokoh kaliber dunia dan nasional.
News & Views adalah sebuah usaha Inke untuk memproyeksikan Indonesia yang baru, yang penuh semangat dan dinamis. Karenanya sasaran utama News & Views adalah orang asing, menyajikan berbagai pandangan yang berkembang di Indonesia dalam masa pergolakan kekuatan dan transisi ke era demokrasi.
Bersamaan itu, News & Views juga berusaha menguak pandangan dunia internasional mengenai perkembangan di Indonesia terutama bidang ekonomi dan politik. Di News & Views, selama hampir lima tahun mengudara, Inke berhasil bertemu langsung dengan 200 orang tokoh dari dalam dan luar negeri. Semuanya memberikan kesan mendalam bagi Inke.
Walau menjabat President Director Inke Maris & Associates (IM&A), President Director Inke Maris of School Communications (IMC) dan Chairman of IMC Foundation, yang memberikan jasa pendidikan play group dan Taman Kanak-Kanak dengan menekankan siswa aktif berbahasa Inggris, hingga tahun 2001, Inke tak pernah menghentikan pengabdian terbaiknya terhadap TVRI.
Ia bahkan mempunyai visi jika diangkat menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi akan mewajibkan semua stasiun televisi agar mempunyai tanggung jawab sosial dan mengalokasikan sebagian waktu siaran sedikitnya 30% untuk program-program yang peduli akan hak-hak publik memperoleh siaran berisi informasi, edukasi, dan hiburan sehat.
Sebagai figur publik yang terkenal karena posisinya penyiar TVRI bereputasi sangat baik, Inke selalu berusaha memisahkan secara tegas antara pekerjaannya sebagai jurnalis dengan bisnis PR yang dilakoni bersamaan. Tetapi, pengalaman 30 tahun lebih sebagai jurnalis sangat bermanfaat bagi Inke tatkala memasuki dunia bisnis.
Misalnya, dalam wawancara, Inke banyak belajar untuk lebih disiplin dengan waktu, atau untuk lebih memahami sudut pandang orang yang sedang diwawancara. Itu, dia bawa ke public relations. Tapi, dari segi networking, misalnya, mendapat pekerjaan dari salah satu tokoh yang diwawancarai itu belum pernah dialami Inke. Kecuali dalam satu hal, Inke yang pernah mewawancarai ekonom Rizal Ramli, Kwik Kian Gie, atau Laksamana Sukardi, itu diajak bergabung membantu Menko Perekonomian Rizal Ramli sebagai Staf Ahli Bidang Komunikasi.
Anak Diplomat
Inke yang menguasai aktif bahasa Inggris, Indonesia dan Jerman, serta bahasa Belanda (pasif), berasal dari keluarga diplomat karir bekerja di Departemen Luar Negeri. Ayahnya, Yusuf Natanegara, pernah ditugaskan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jerman, Inggris, dan Uni Soviet. Inke ikut serta dibawa ke sana. Jadilah Inke banyak mengenyam kehidupan dan sekolah di luar negeri semenjak masa kanak-kanak hingga dewasa.
Oleh ayah dan ibunya, dia sering diajak naik mobil berkeliling negara-negara Eropa. Hampir seluruh negara Eropa pernah dijelajahinya. Memanfaatkan waktu libur, mereka naik mobil keliling Eropa, kadang-kadang ke Spanyol, Italia, Denmark dan sebagainya.
Sebagai anak-anak, Inke menikmati sekali pemandangan yang berbeda-beda. Di setiap kota yang dikunjungi, orangtuanya tidak hanya membawa Inke ke tempat-tempat hiburan, seperti karnaval, tetapi juga ke tempat-tempat bersejarah atau museum. Inke sangat menikmati sekaligus mempelajari sejarah setiap lokasi yang dikunjungi. “Saya menikmati itu serta memelajari tentang sejarahnya,” ujar Inke kepada Wartawan Tokoh Indonesia, Rabu 22 Desember 2004.
Inke rajin membaca, dia kutu buku. Di rumahnya banyak buku. Hobi Inke dari kecil adalah membaca. Satu kebiasaan sejak kecil, jika orangtua mengajaknya mengunjungi tempat atau rumah kerabat dan kenalan, pertama-tama yang ia suka sekali lakukan adalah bertanya dan mencari buku. Jika yang dicari sudah ketemu, ia akan segera mengambil tempat terpojok, lalu membaca buku kesukaan seperti buku sastra dan buku cerita. Selain renang dan menonton film, membaca adalah hobi terberat Inke.
Sebagai diplomat, ayahnya, yang pernah menjabat Kepala Bagian Ekonomi dan Perdagangan KBRI London, sangat menanamkan semangat dan rasa cinta tanah air. Inke dididik harus menguasai berbagai hal tentang Indonesia. Sebab sebagai anak diplomat, Inke selalu ikut ditanya mengenai negaranya. Sehingga Inke juga harus belajar tentang Indonesia dan belajar mengenai seni-budaya Indonesia, seperti tari topeng dan tari merak.
Selama hidup di negeri asing, Inke sering dimintai ayahnya menarikan tari topeng dan tari merak untuk menghibur tamu-tamu kedutaan, baik itu warga Indonesia yang sedang bermukim di sana maupun warga asing penduduk setempat.
Kehidupan sebagai seorang anak diplomat di luar negeri dan didikan orangtua itulah yang mendorong serta menumbuhkan rasa percaya diri pada Inke untuk berani tampil dan berbicara dengan orang banyak. Inke berani berbicara dengan orang Indonesia sendiri, atau orang asing, secara tidak kikuk. Berhadapan dengan orang asing sama saja baginya sebab mereka juga terdiri dari darah dan daging sebagai manusia biasa. Inke menjadi terbiasa tampil di depan umum.
Ketika bekerja di radio BBC London, usia sudah tidak lagi anak-anak, Inke sering dimintakan bantuan oleh kedutaan. Misalnya untuk menyelenggarakan acara, membawa rombongan penari ke festival-festival di Inggris atau mengadakan acara ibu-ibu kedutaan, seperti merayakan Hari Ibu atau Hari Kartini. Inke ikut terlibat aktif biasanya bertugas di bidang komunikasi untuk menggalang liputan yang bagus dari media massa di sana, seperti radio atau televisi. Beragam pengalaman itu ikut membentuk Inke menjadi sangat suka menggeluti bidang komunikasi, khususnya PR.
Pengalaman panjang nan luas hidup di negeri asing menjadi sangat berguna tatkala Inke terjun sebagai jurnalis di radio BBC London Seksi Indonesia dan ketika Inke membuka kantor konsultan strategi komunikasi. Dunia seakan-akan berada dalam genggaman pengetahuan dan pengalaman seorang Inke. Pengetahuan itu pun menjadi mudah sekali dikomunikasikan kepada siapa saja dengan memanfaatkan media apa pun.
Pendidikan Berpindah-pindah
Ayahnya mencita-citakan agar Inke mengambil pendidikan tinggi jurusan ekonomi. Namun, Inke sudah kadung lebih senang menjadi penyiar, mengorganisir acara-acara dan membuat reporting yang lebih menarik
Inke menjalani masa pendidikan berpindah-pindah sebagaimana galibnya anak dari keluarga diplomat yang sering berpindah tugas. Inke mengawali pendidikan dasar di Nicholas Cusanus Gymnasium, Bad Godsberg, Jerman, kemudian menamatkannya pada SD Yayasan Perguruan Cikini, Jakarta, tahun 1960. Ia menyelesaikan pendidikan SMP Yayasan Sumbangsih, Jakarta (1964) dan SMA Negeri III Teladan, Jakarta (1967).
Inke kembali pergi ke luar negeri, kali ini menuju Inggris, setelah ayahnya ditunjuk sebagai Kepala Bagian Ekonomi dan Perdagangan KBRI London. Ia melanjutkan pendidikan di City of London Business School (1978), lalu di Clark’s College, London. Selain memperoleh sertifikat Commercial Certificate, dari Clark’s College, Inke masih memperoleh beberapa sertifikat lain. Seperti, dari London Chamber of Commerce, Intermediate Stage Certificate, dari British General Certificate of Education, Commerce dan dari Cambridge University meraih sertifikat Proficiency in English.
Inke Maris yang telah sukses berbisnis sebagai pelopor public relations (PR), dan memiliki reputasi serta nama harum sebagai penyiar TVRI, masih saja terus tertarik menimba ilmu. Inke adalah mahasiswa program pascasarjana Master of Art (M.A.), pada Centre for Mass Communication Research, University of Leicester, di kota Leicester di negeri Pangeran Harry, pria urutan kedua pewaris tahta kerajaan Inggris.
Setiap enam minggu sekali Inke menyerahkan paper berisi 5.000 kata atau kurang lebih setebal 14 halaman. Salah satunya, seputar perkembangan terbaru di bidang komunikasi massa global dan nasional, dengan konsentrasi pada media televisi dan komunikasi politik pada Pemilu Presiden 2004 yang dijadikan sebagai studi kasus. Pada Pemilu Presiden 2004 itu, Inke Maris melalui kantor jasa konsultan komunikasi IM&A miliknya, terlibat mendirikan Media Center SBY-JK yang berlokasi di Graha Surya Internusa, Kuningan, Jakarta.
Pemilu Presiden 2004, yang merupakan peristiwa bersejarah pertamakali terjadi di Indonesia pemilihan langsung presiden, itu telah diangkat Inke sebagai bahan kajian untuk meraih gelar master S-2 di bidang mass communication.
Dengan meraih gelar S-2, Inke berkehendak menyandingkan kemampuan praktis komunikasi massa, dengan kemampuan akademis pendidikan tinggi. Dengan demikian dia layak disebut sebagai praktisi dan pakar konsultan komunikasi kelas wahid yang paripurna di Indonesia.
Kegiatan Lain
Inke Maris pengagum Larry King, Oprah Winfrey dan penyiar berita SCTV Rosianna Silalahi, ini jarang sekali diketahui orang kalau pernah bekerja sebagai public relations manager pada World Trade Centre (1984-1986), interpreter Ibu Tien Soeharto di Istana Presiden (1979-1987), bahkan menjadi Staf Ahli Bidang Komunikasi Menteri Koordinator Perekonomian era Rizal Ramli (September 2000-Juni 2001).
Inke pertama kali berkenalan dengan lingkungan Istana Presiden tatkala Presiden Soeharto melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris, tahun 1979, diserahi tugas mendampingi Ibu Negara Nyonya Tien Soeharto. Peristiwa itu terjadi persis hanya 40 hari setelah Inke melahirkan si bungsu Renata.
Inke juga aktivis lingkungan hidup. Ia pernah pengurus harian bidang komunikasi Dana Mitra Lingkungan (sejak 1986). Karena kecintaan terhadap lingkungan, Inke sebagai reporter TVRI, tertarik menyusuri daerah aliran sungai Brantas. Selama berminggu-minggu, ia pernah menyusuri daerah aliran sungai Brantas turun dari hulu hingga ke hilir untuk membuat film dokumenter berjudul “Sungai Brantas dan Lingkungan”.
Dengan tujuan sama, Inke pernah menyusuri hutan perawan rimba pulau Kalimantan untuk bercerita tentang kayu lapis, dan membuat film dokumenter “Pertumbuhan Industri Kayu Lapis Indonesia”. Tak lama setelahnya, Indonesia segera marak dengan industri kayu lapis, yang sayangnya, membuat status Kalimantan menjadi terganggu sebagai paru-paru dunia.
Inke pernah pula turun ke jalanan melakukan demonstrasi. Seperti terjadi pada Selasa 5 Februari 2002, ia mewakili individu bersama 29 LSM dan Ormas, demonstrasi menuntut Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso bertanggungjawab atas peristiwa banjir yang melanda Ibukota pada awal tahun 2002.
Pengabdian Sosial
Di usia paruh baya, di luar kegiatan resmi sebagai pelaku bisnis ke-PR-an yang terbilang sukses, Inke juga aktif mengabdikan diri di bidang sosial. Inke masih saja mempunyai waktu dan aktif di bidang pendidikan. Sudah beberapa tahun, Inke bersama teman-teman mendirikan Yayasan Pendidikan IMC (Inke Maris School of Communications), yang membuka jasa sekolah playgroup dan Taman Kanak-Kanak dengan bahasa pengantar resmi bahasa Inggris.
Dia sekaligus menjadi Ketua Yayasan Pendidikan IMC, yang memiliki sekitar 10 cabang, bekerjasama dengan Yayasan Harapan Ibu di Bintaro, serta Yayasan Mutiara Indonesia pimpinan tokoh pendidikan anak Kak Seto. Lokasi sekolah, yang juga menawarkan jasa dan kursus-kursus bahasa Inggris, terdapat di dua cabang di Jakarta Selatan. Yakni di Bona Indah Plaza, Jalan Karang Tengah Raya Kav. A2-B3, Jakarta Selatan, dan di Sunny Hill, Jalan MPR Raya Kav. 8, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.
Di IMC, keterlibatan Inke, yang mempunyai sertifikat proficiency dalam bahasa Inggris sehingga sebetulnya bisa dan berhak mengajar bahasa Inggris, itu lebih kepada membangun sistem. Inke memanfaatkan secara maksimal waktunya yang masih tersisa untuk IMC.
Inke Maris sangat menekankan pendidikan anak-anak mulai kecil dalam bahasa Inggris. Mengapa harus bahasa Inggris? Karena Inke melihat bahasa Inggris sudah merupakan bahasa internasional, lingua franca dunia yang tak lagi bisa dihindari. Satu dari empat orang di dunia bicara sudah dalam bahasa Inggris. Semua buku-buku, science, komputer, kebanyakan sudah dalam bahasa Inggris. Kalau karir mau maju bahasa Inggris adalah suatu keharusan. Dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris menjadi lebih terbuka visi dan wawasan.
Selain itu, bersama suami, Inke dipercaya mengelola dan menyalurkan dana beasiswa dari Singapore Airlines (SIA) untuk para siswa SD, SMP dan SMA di Jakarta, serta mahasiswa kurang mampu karena terkena dampak krisis ekonomi 1997. Program Singapore Airlines untuk Pendidikan (SIAP), itu dimulai sejak tahun akademik 2001/2002. Hingga tahun 2003/2004 telah tersalurkan dana beasiswa terhadap 2.266 siswa SMA di Jakarta dan 316 mahasiswa UI, ITB, Unair dan ITS Surabaya, jumlah total Rp 4 milyar.
Inke mengharapkan dapat mengembangkan Program SIAP bahkan hingga tak terbatas. Untuk tahun akademik 2004-2005 saja, kata Inke, sudah tersedia dana beasiswa baru bagi 793 siswa (SMP 322 dan SMU 366) dan mahasiswa (105) senilai Rp 1,3 milyar.
Pada tahun ke-7 (2008) direncanakan sudah akan tersalurkan dana beasiswa terhadap 4.000 siswa dan mahasiswa, dari berbagai kota di Indonesia, senilai Rp 10 milyar. Kata Inke Maris, prioritas Program SIAP adalah membantu siswa dan mahasiswa Indonesia yang cerdas tetapi berasal dari keluarga sederhana, yang jika tanpa bantuan SIAP terpaksa akan berhenti sekolah.
Keluarga
Menikah dengan Rizal Maris di London tahun 1969, Inke dikaruniai tiga orang anak. Anak terbesar laki-laki bernama Yuma Sanjaya, ia mendapat beasiswa Fulbright untuk meraih gelar MBA -nya dari University of Texas Business School. Sudah menikah dan sudah memberikan satu orang cucu. Yuma berhasil mengikuti jejak lama Rizal Maris sebagai bankir, bekerja di Citibank, Jakarta. Anak kedua, Armand Erlangga Maris, kuliah sambil bekerja di kantor IM&A. Dan anak ketiga, Renata Mira Maris adalah lulusan Universitas Trisakti Jakarta dan Edith Cowan University dari Australia, sudah setahun bekerja di bidang komunikasi tepatnya advertising.
Inke Maris dan suami membangun hubungan dengan ketiga anaknya secara sangat bersahabat. Di rumah kehidupan mereka cukup demokratis. Masing-masing boleh mengungkapkan perasaan dan berbicara dengan bebas. Pola itu selalu dibina, sesuatu yang mungkin sudah biasa terjadi di keluarga Indonesia namun di jaman dahulu masihlah tabu.
Zaman dulu itu, terhadap orangtua anak harus sangat sopan, sangat hormat, apalagi orang Sunda kepada orangtua terdapat kata-kata tertentu yang dikhususkan untuk orangtua, tidak untuk digunakan dengan teman-teman.
Inke dengan anak-anak bisa bebas berbicara hingga teriak-teriakan atau berdebat hingga adu argumentasi segala. Sikap demokratis demikian membuat batas hubungan antara anak dengan orangtua menjadi tipis. Inke dan suami memang sepakat untuk membangun kehidupan yang demokratis di rumah. Keduanya tak perlu secara sengaja membagi-bagi waktu. Namun kalau anak-anak ada keperluan, pasti Inke dan suami memprioritaskannya. ►e-ti/ht-ms
_________________________________
Pewawancara Tokoh Kaliber Dunia
Sepanjang 30 tahun lebih berkarir sebagai wartawan, Inke Maris telah mewawancarai 400 orang lebih tokoh-tokoh terkemuka berkaliber dunia dan nasional. Baik itu tokoh kenegaraan, pemerintahan, politisi, pelaku bisnis, pengamat ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya. Dia berdialog langsung di corong radio atau sorotan kamera televisi dalam wawancara eksklusif yang amat menarik perhatian publik.
Inke, karena tak mau melupakan wawancara eksklusifnya dengan keseluruhan tokoh, lalu menuliskan beragam pengalaman unik dan terbaiknya itu ke dalam buku yang diterbitkan Grasindo, tahun 2002, berjudul “Total Profesionalism, News & Views Wawancara Inke Maris dengan Tokoh-Tokoh Global.”
Tokoh-tokoh itu, antara lain PM Inggris Margareth Thatcher, First Lady AS Nancy Reagan, Pemimpin PLO Yasser Arafat, PM Singapura Goh Chok Tong, Presiden Komisi Eropa Romano Prodi, Menhan AS William Cohen, PM Australia Paul Keating, Direktur Pelaksana IMF Michael Camdessus, Presiden Bank Dunia James D. Wolfensohn, PM India Rajiv Gandhi, Presiden Filipina Cory Aquino dan Fidel Ramos, Menlu AS Alexander Haig, Presiden ADB Tadao Chino, Sekjen OPEC Riwalnu Lukman, Kepala Jubilee Plus London Ann Pettifor, Direktur Eksekutif Human Rights Watch Kenneth Roth, Direktur Asia Pasifik IMF Hubert Neiss, dan masih banyak lagi.
Dari dalam negeri tokoh-tokoh yang akrab di hadapan Inke Maris dalam sorotan kamera televisi, antara lain Menko Perekonomian Rizal Ramli, Menko Ekuin Kwiek Kian Gie, Kasospol ABRI Letjen Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua PDI Perjuangan Laksamana Sukardi, Direktur Eksekutif CSIS Marie Elka Pangestu, Sarwono Kusumaatmaja, Erry Riyana Harjapamekas, Safwan Natanegara, Felia Salim, Djafar Assegaf, Emil Salim, Hartojo Wignjowinjoto, HS Dilon, Lesan Limanardja, Pontjo Sutowo, Fuad Bawazier, Sumitro Djojohadikusumo, Dedi Aditya Sumanegara, Muladi, Marzuki Darusman, Fachrul Razi, Parni Hadi, Sri Mulyani, Amien Rais, Erna Witular, Bambang Harimurti, Nurcholis Madjid, Marzuki Usman, Nafsiah Mboi, J Soedjati Djiwandono, Rahardi Ramelan, dan lain-lain.
Margareth Thatcher
Sangat banyak kesan yang sangat bermakna bagi Inke dari pengalaman mewawancarai para tokoh itu. Salah satu yang paling berkesan adalah wawancara dengan PM Inggris Margareth Thatcher.
Ketika itu (1984), Margareth Thatcher akan berkunjung ke Indonesia. Ia membuat film dokumenter berjudul “Inggris Dewasa Ini” berisi dokumentasi tentang pemerintahan dan ekonomi Inggris di bawah pemerintahan Partai Konservatif pimpinan Thatcher yang dijuluki dunia sebagai “Wanita Besi” itu.
Untuk keperluan ini, Inke memperoleh berkesempatan istimewa mengadakan wawancara eksklusif dengan Thatcher sebanyak dua kali, April 1984 dan Oktober 1985, di kediaman resmi Perdana Menteri Inggris yang tersohor, yakni Downing Street No. 10, London, sebuah rumah berbentuk town house berlantai tiga berukuran tak terlalu besar.
Saat itu, Thatcher, merupakan satu dari hanya empat wanita yang pernah terpilih menjadi pemimpin sebuah negara, selain Ny Indira Gandhi dari India, Golda Meir dari Israel dan Ny Bandaraneika dari Sri Lanka,
Begitu bermaknanya wawancara dengan Thatcher. Sampai-sampai Inke menganggap wawancara tersebut sebagai titik puncak karirnya dalam dunia penyiaran televisi. Sekalipun sebelum dan sesudahnya, dia telah mewawancarai ratusan tokoh, kesan Inke terhadap Thatcher tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas. Satu-satunya tokoh yang mampu mengimbanginya dan memberikan kesan terdalam kepada Inke adalah Michael Camdessus. Wawancara dengan Direktur Pelaksana IMF itu berlangsung 15 Januari 1998.
Terkenang Arafat
Setelah pensiun dari dunia kewartawanan, memasuki usia paruh baya, di sela-sela kesibukannya sebagai tokoh komunikasi, kehumasan, dan public relations, Inke seringkali terduduk mangu tatkala menonton saluran televisi global seperti CNN, dimana di situ terdapat siaran berita tentang tokoh-tokoh yang pernah diwawancarai.
Lalu muncullah sebuah rasa kepuasan baru bahwa Inke pernah mewawancarai sang tokoh dimaksud. Ia pun selalu bergumam kecil dalam hati, ‘Saya sudah pernah wawancara dia.’
Begitulah yang terjadi pada diri Inke ketika menyaksikan berita tentang James D Wolfensohn, Presiden Bank Dunia, atau Michael Camdessus dari IMF, atau Nancy Reagan mantan first lady AS, dimana dengan Nancy, Inke yang bertugas sebagai penterjemah, pernah duduk bersebelahan (berlangsung tahun 1986, saat Nancy bersama suami Ronald Reagan berkunjung ke Bali).
Terdapat banyak tokoh lain yang mampu membuat Inke ikut bersedih, seperti Yasser Arafat, Pemimpin PLO yang meningggal dunia November 2004. Inke sudah tiga kali wawancarai Arafat. Pertama 24 September 1993, dan kedua 22 Agustus 2000.
Kedekatan batin Inke dengan pejuang Palestina itu membuatnya rela mengikuti seluruh acara televisi berisi upacara pemulangan jenazah Yasser Arafat. Mulai saat pesawat mendarat di Kairo, Mesir, lalu jenazah diangkut ke tanah airnya Palestina, hingga dimakamkan di Ramallah. Inke, menyaksikan pula bagaimana duka orang-orang yang sangat begitu cinta kepada Arafat. Kata-kata dalam pertemuan terakhir kali dengan Arafat masih tetap diingat Inke. Bahkan, diputarnya kembali kaset hasil tiga kali wawancara itu.
Inke berstatus sebagai tamu presiden saat mewawancarai Arafat di tengah malam, pukul 01:00, sebelum Arafat naik ke pesawat. Inke mengutarakan ucapan selamat, setelah Arafat baru saja menandatangani perjanjian damai dengan Israel di halaman Gedung Putih, AS. Disaksikan oleh Presiden AS Bill Clinton, Arafat bersalam-salaman dengan Perdana Menteri Israel Shimon Peres di halaman Gedung Putih.
Selain mengucapkan selamat Inke menyampaikan pula kata perpisahan, ‘Sampai ketemu lagi, mungkin di Yerusalem’. Ucapan itu lalu dibalas Arafat, ‘Insya Allah, kita akan sholat bersama di Yerusalem.’ Inke tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya kepada Arafat yang selama puluhan tahun berjuang akan hadirnya sebuah bangsa, negara, dan tanah air merdeka bernama Palestina.
Namun sayang perjuangan belum berhasil diwujudkan hingga ajal menjemput. Arafat dalam pandangan Inke adalah seorang pria teguh yang seumur hidupnya sebagai orang dewasa hanya berjuang untuk kemerdekaan Palestina.
Begitulah, kepada setiap tokoh-tokoh internasional yang pernah diwawancarai, jika disaksikan di televisi Inke selalu merasakan sesuatu.
Media Center SBY
Semua tokoh yang pernah diwawancarai selalu memberikan kesan menarik tersendri dan sangat membekas dalam diri Inke Maris. Termasuk dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang sudah tiga kali diwanwancarai secara eksklusif.
Wawancara pertama, saat SBY masih berpangkat Letnan Jenderal TNI, menjabat Kasospol ABRI, pada 26 Juni 1998, berlangsung di Mabes ABRI Cilangkap, Jakarta Timur. Wawancara kedua berlangsung ketika SBY menjabat Menteri Pertambangan dan Energi, pada 7 April 2000. Ketiga selaku Menko Polkam pada 1 September 2001.
Wawancara pertama berlangsung saat peran politik ABRI sedang gencar-gencarnya dipertanyakan, seiring guliran reformasi. Di Cilangkap, kantor “Pentagon”-nya Indonesia yang kokoh dan megah, kepada Inke, SBY menjelaskan paradigma baru ABRI. Inke saat itu sudah berhasil menangkap kesan pertama tentang sosok SBY yang smart, bijak, penuh pertimbangan, tegas dan penuh wibawa, namun terbuka untuk membahas ide-ide dan gagasan orang lain.
Di Kantor Deptamben, Inke masih menangkap kesan sama pada wawancara kedua. SBY yang tetap tampil tegas dan penuh keyakinan, dengan lugas menjelaskan sikap pemerintah Indonesia atas kenaikan luar biasa harga minyak dunia dan masa depan pertambangan Indonesia.
Pada pertemuan ketiga di Kantor Menko Polkam, Inke dengan SBY membahas masalah Aceh dan Irian. Di situ SBY mulai memunculkan karakternya sebagai tokoh yang kompeten dan pemimpin yang tegas.
Beragam kesan itulah yang membuat Inke menjadi tak merasa segan tatkala muncul orang-orang dekat SBY, mengutarakan niat hendak mendirikan Media Center untuk memenangkan SBY bersama pasangannya Muhammad Jusuf Kalla (JK), pada Pilpres 2004.
Orang dekat SBY itu meminta bantuan kepada Inke, tepatnya IM&A sebagai anggota Dewan Pakar, Koordinator Media Center SBY - JK. Kerjasama terbangun secara sangat mudah dan sederhana namun berhasil memelihara popularitas SBY-JK tetap meroket hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2004-2009.
Inke memang sudah lama punya sudut pandang khusus tentang SBY. Sudut pandang itu semakin terbangun saat Inke menjabat Staf Ahli Bidang Komunikasi Menko Perekonomian Rizal Ramli. Dalam sidang-sidang Rakor Kabinet, Inke sering dimintakan untuk membuat notulen rapat, yang juga dihadiri SBY. Inke semakin mendapat kesan mendalam pula tentang SBY yang berbicara teratur, sistimatis, berwibawa, nurani, serta tidak sombong.
Ketika menerima tawaran orang-orang dekat SBY, Inke sesungguhnya tidak lepas dari pilihan akan adanya resiko-resiko yang pasti akan terjadi dipandang dari sudut bisnis, jika klien yang didukung kalah. Pasti, peran media relations akan secara serta-merta digugat sekaligus dituntut sebagai salah satu penyebab kekalahan. Namun pikiran akan resiko itu segera sirna oleh simpati, empati, ikut merasa, dan adanya keterkaitan emosional Inke terhadap pesona SBY.
Dia dinilai punya pengetahuan dan nama baik di bidang ini. Maka tak heran bila Inke Maris dipercaya sebagai Koordinator Media Center SBY - JK bagi pasangan capres-cawapres yang akhirnya terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla (SBY-MJK) pada Pilpres 2004 lalu.
Pasangan SBY-MJK menjadi semakin sangat populer, lalu dipilih oleh sebagian besar rakyat Indonesia sebagai presiden-wakil presiden baru periode 2004-2009.
Media Center SBY-JK bertempat di Gedung Graha Surya Internusa, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. IM&A juga ditugaskan memproduksi serta mendesain iklan-iklan kampanye “People for SBY”, yang ditayangkan di TVRI, RCTI, SCTV, Trans TV, serta di suratkabar nasional dan daerah..
Ketika mendirikan Media Center SBY-JK, yang pertama-tama dilakukan Inke adalah membuat sistem. Sistem dibuat seperti suasana di news room, suasana tempat di mana Inke sering dan terbiasa bekerja kala masih bertugas sebagai wartawan radio BBC London dan TVRI. Di Media Center SBY-JK, Inke dan Tim aktif memonitor semua berita di media massa, kemudian setiap hari memberikan masukan-masukan kepada Tim SBY mengenai apa saja berita-berita yang muncul di media, berikut tanggapan-tanggapan apa yang dibuat oleh orang-orang di media tentang kebijakan SBY.
Bersamaan itu, Media Center SBY - JK juga mengeluarkan materi-materi untuk disebarluaskan ke media massa, serta mengelola website khusus pemenangan pasangan SBY-JK.
Begitu ketahuan SBY-JK terpilih sebagai Presiden RI 2004-2009, kerjasama Inke dengan SBY selesai sampai di situ. Kontrak kegiatan sudah berbeda sebab posisi baru SBY sudah memerintah negara. Yang masih tertinggal pada diri Inke adalah sebuah rasa kebanggaan betapa klien yang didukung berhasil meraih tujuan yang diinginkan secara tepat waktu.
Inke berpandangan, khusus di bidang politik tokoh yang didukung tidak bisa dianggap sebagai klien biasa. Sebab di dalamnya harus ada suatu keterlibatan emosional, ada suatu ideologi, ada suatu pandangan, dan ada suatu misi yang harus dihayati bersama. Karena itu di bidang politik, Inke tidak bisa membantu siapa saja tokoh, sebab harus lebih dahulu ada kesamaan padangan dan visi dengan sang tokoh. Klien politik bagi Inke tidak sama seperti klien dalam bisnis. “Pokoknya, saya mengagumi dan saya menghayati visi misi dia untuk Indonesia,” kata Inke tentang SBY.
Pilkada, Tantangan Baru
Pemilu Presiden telah berlalu. Namun Inke masih merasakan bekas jejak keberhasilannya sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran baru yang sangat berharga.
Usai Pemilu Presiden akan segera diikuti pemilihan kepala daerah (Pilkada) apakah Gubernur, Bupati, dan Walikota, di seluruh Indonesia. Jumlah jabatan yang tersedia 400 lebih, masing-masing diperebutkan oleh lima hingga 10 orang tokoh. Mereka juga akan dipilih langsung oleh rakyat, sama seperti Presiden. Tugas ke-PR-an terpanggil untuk memenuhi kebutuhan setiap kandidat.
Komunikasi politik adalah hal yang baru untuk Indonesia. Demikian pula berkampanye melalui media, mengandalkan media, terutama media massa televisi. Inke memandang media televisi tetap akan berperan besar dalam setiap pemilu. Karena itu, Inke akan memanfaatkan pengalaman IM&A untuk disumbangkan pada pemilihan-pemilihan gubernur, bupati, dan walikota.
Dahulu, politisi lebih banyak mengandalkan pengerahan massa. Dengan televisi kandidat bisa langsung menjangkau jutaan orang pemilih sekaligus. Kini, rules of the game-nya sudah berbeda. Kampanye pengerahan massa dan melalui media televisi bisa berjalan berbarengan. Televisi adalah sarana yang perlu dimanfaatkan oleh setiap politisi untuk tampil menjangkau rakyat.
Televisi adalah medium dengan aturan-aturan mainnya tersendiri. Seperti, misalnya seorang yang, katakanlah orang yang sederhana, tidak suka banyak bicara tapi banyak bekerja, itu untuk ditampilkan di televisi agak sulit. Karena dia tidak verbal, dia tidak bisa menceritakan apa visi misinya. Jadi, seseorang yang kendati sudah mampu memberikan contoh melalui action nyata, misalnya, itu mungkin agak sulit untuk diangkat di televisi.
Jadi, kalau para politisi mau menggunakan televisi sebagai sarana berpolitik, kata Inke, dia harus belajar untuk berbicara di televisi dengan memberikan isyarat-isyarat yang tepat di televisi.
Inke juga memanfaatkan pengalamannya mendukung kampanye politik Pilpres 2004 untuk menyelesaikan post graduate study-nya di bidang komunikasi massa, untuk meraih gelar S-2 di University of Leicester, di kota Leicester, Inggris. Salah satu topik yang dikaji dalam political communication, itu mengenai peran dari the new telecommunication system seperti melalui internet, televisi kabel, dan sebagainya. Itu, pengalaman praktis yang sangat berguna bagi Inke untuk membuat paper setiap enam minggu sekali, dalam bahasa Inggris, terdiri minimal 5.000 kata.
Inke yang jika tampil di publik selalu tampak sangat smart dan anggun, sebagai praktisi ke-PR-an melihat pengalaman Pemilu 2004 sebagai sebuah pesta demokrasi Indonesia. Pesta itu berlangsung sangat demokratis, aman, berjalan tenang dan baik membuat Indonesia dikagumi seluruh dunia sebagai negara demokrasi baru terbesar ketiga setelah AS dan India. ►e-ti/ht-ms
_________________________________
BIODATA
Nama:
Inke Maris
Nama Kecil:
Nyi Raden Maria Diniarti Natanegara
Lahir :
Bogor, Jawa Barat, 7 Desember 1950
Agama :
Islam
Suami:
Rizal Maris
Menikah:
Tahun 1969, di London, Inggris
Anak:
1. Yuma Sanjaya
2. Armand Erlangga Maris
3. Renata Maris
Cucu:
Satu (1) orang
Jabatan:
-Chief Executive Oficer (CEO) Inke Maris & Associates (IM&A)
-President Director Inke Maris School of Communications (IMC)
-Chairman of IMC Educarion Foundation
Pendidikan :
-Pendidikan Dasar di Nicholas Cusanus Gymnasium, Bad Godsberg, Jerman
-SD Yayasan Perguruan Cikini, Jakarta (1960)
-SMP Yayasan Sumbangsih, Jakarta (1963)
-SMA Teladan, Jakarta (1966)
-City of London Business School (1978)
-Clark’s College Commercial Certificate
-London Chamber of Commerce, Intermediate Stage Certificate
-British General Certificate of Education, Commerce
-Cambridge University, Proficiency in English
-M.A. Program, Centre for Mass Communication Research, University of Leicester, Inggris
Kursus-kursus BBC London:
-Magazine Production, Agustus 1973
-Features Production, Oktober 1975
-Interview Techniques, Septemebr 1979
-News Production, September 1991
Penguasaan Bahasa Aktif:
Inggris, Jerman, Indonesia, dan Belanda (pasif)
Karir :
-Reporter, Penyiar, Produser Radio BBC London, Seksi Indonesia (1969-1981)
-Koresponden Sinar Harapan (1976-1982)
-Reporter, Penyiar, Produser TVRI (1982-2001)
-Public Relation Manager World Trade Centre, Jakarta (1984-1986)
-Penterjemah Kantor Istana Presiden, (1979-1987)
-Staf Ahli Bidang Komunikasi Menko Perekonomian (2000-2001)
-Mendirikan dan Memimpin Inke Maris & Associates (1987-sekarang)
Kegiatan Lain :
- Pengurus harian bidang komunikasi Dana Mitra Lingkungan (sejak 1986)
Alamat Rumah :
Jalan Alam Asri IV/14, Pondik Indah, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
Jalan KH Abdullah Syafi’ie (Lapangan Roos Raya) No. 28, Jakarta Selatan 12840
Telp. (021) 828.1250, Faks. (021) 835.1369
Website: www.inkemaris.com


0 comments:
Post a Comment